Sabtu, 15 Desember 2012


BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeretan hubungan keduanya. Sebagian orang menganggap mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan.
Merujuk kepada pola kependidikan dan keguruan Rasulullah Saw. Dalam perspektif islam, guru menjadi posisi kunci dalam membentuk kepribadian muslim yang sejati. Keberhasilan Rasul Saw. dalam mengjar dan mendidik umatnya, lebih banyak menyentuh aspek perilaku, yaitu contoh teladan yang baik dari Rasul ( uswatun hasanah).[1]
Sebagian orang menganggap bahwa mengajar tak berbeda dengan mendidik. Oleh karenanya, istilah mengajar/ pengajaran yang dalam bahasa Arab disebut ta’lim dan dalan bahasa Inggris teaching itu kurang lebih sama artinya dengan pendidikan yakni tarbiyah dalam bahasa Arab dan indication dalam bahasa inggris. Implikasinya ialah, setiap kegiatan kependidikan yang bersifat formal hendaknya dilakukan oleh pendidik professional yang bertugas antara lain melaksanakan pembelajaran (baca; proses membuat murid belajar) sebagai mana yang diisyaraikan dalam UU No. 20/2003 Bab XI pasal 39 ayat 2.[2]
Definisi Mengajar
Pengertian yang umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi pendidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.[3] Adapun yang mengatakan mengajar adalah tugas guru untuk menuangkan sejumlah bahan pelajaran kedalam otak anak didik. Guru yang mengajar dan mendidik dan anak didik yang belajar menerima bahan pelajaran dari guru dikelas.[4]
Arifin (1978) mendefinisikan mengajar sebagai suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menangapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
Tyson dan Caroll (1970), setelah mempelajari seksama sejumlah teori pembelajaran, menyimpulkam bahwa mengajar adalah sebuah cara atau sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Sehubungan dengan definisi itu, Tyson dan Caroll menetapkan sebuah syarat, yaitu apabila interaksi antar personal (guru dan siswa) didalam kelas terjadi dengan baik, maka kegiatan belajar akan terjadi. Sebaliknya, jika interaksi guru dan siswa buruk, maka kegiatan belajarpun tidak akan terjadi atau mungkin terjadi tetapi tidak sesuai dengan harapan.
Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivis mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dalam menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar), tetapi mengikuti guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.
Tardif (1989) mendefinisikan mengajar secara lebih sederhana tetapi cukup konvehensif dengan menyatakan bahwa mengajar itu pada prinsipnya adalah … ani ection performed by on individual (the teacher) with the intention of  facilitating learning in another indifidual (the learner). Artinya, mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini siswa) melakukan kegiatan balajar.
Biggs (1991), seorang pakar psikologi kognitif masa kini, membagi konsep mengajar dalam tiga macam pengertian.
a.       Pengertian kuantitatif (yang menyangkut jumlah pengertian  yang diajarkan).
b.      Pengertian institusional (yang menyangkut kelembagaan atau sekolah).
c.       Pengertian kualitatif (yang menyangkut mutu hasil yang ideal).[5]

Menurut Sudirman (1990),  hakikat mengajar adalah usaha untuk menciptakan kondisi atau system lingkungan yang mendukung dan memungkinkan berlansungnya proses belajar siswa, mahasiswa (peserta didik). Kalau aktifitas belajar dilakukan oleh siswa dan mahasiswa sedangkan kegiatan mengajar dilakukan oleh guru atau dossen (pendidik) sebagai pengajar dikelas.[6]

B.    TUJUAN PEMBAHASAN
a)      Mahasiswa dapat memahami pengertian konsep mengajar.
b)      Mahasiswa dapat mengetahui teori-teori tentang konsep mengajar.
c)      Mahasiswa dapat mengerti strategi-strategi pendekatan pengajaran yang wajar di ajarkan kepada peserta didik.
d)     Dapat memahami macam-macam metode yang terdapat dalam pengajaran.












BAB II
PEMBAHASAN
A.   TEORI TENTANG KONSEP MENGAJAR
Ada dua macam aliran pandangan yang berbeda dalam melihat profesi mengajar. Aliran pertama menganggap mengajar sebagai ilmu, sedangkan aliran kedua menganggap mengajar sebagai seni.

1.      Mengajar Sebagai Ilmu
Sebagian ahli memandang mengajar sebagai ilmu (science). Oleh karnanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga frofesional yang memiliki frofisiensi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas mengajar.
Seorang pakar pskologi pendidikan, J.M. Stephens, berpendapat bahwa seorang yang profesional seharusnya memiliki keyakinan yang mendalam terhadap ilmu yang berhubungan dengan proses kependidikan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang besar itu. Hal ini penting, karena menurutnya itu terkadang berbentuk proses yang emosional dan entusiastik  yang dapat menghambat penerapan secara persis teori-teori ilmu pengetahuan (Barlow, 1985).[7]
2.      Mengajar Sebagai Seni
Sebagian ahli lainnya memandang bahwa mengajar adalah seni (art), bukan ilmu. Oleh karenanya, tidak semua orang berilmu (termasuk orang yang berilmu pendidikan) bisa menjadi guru yang piawai dalam hal mengajar.
Sehubungan dengan pandangan diatas, seoang guru besar sastra Gilbert Hight dalam bukunya The Art of Teakching (Seni Mengajar) menegaskan bahwa, …teaching is an art, not a science yakni mengajar adalah sebuah seni, bukan sebuah  ilmu (Barlow, 1985). Menurutnya, penerapan tujuan dan metode sebuah ilmu kepada manusia itu (dalam pengajaran) sangat berbahaya, meskipun prinsip statistikdan diaknosis staintifikdapat menjelaskan tingkah laku dan struktur fisik aneka ragam kelompok manusia.[8]
Mengajar sebagai ilmu dan mengajar sebagai seni itu terdapat benang merah yang membuat keduanya saling terikat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dengan demikian, hubungan antara bakat keguruan dengan proses belajar yang sesuai dengan bakat itu, ibarat hubungan antara dua sisi mata uang logam yang berfungsi saling melengkapi.[9]

B.    STRATEGI DAN CONTOH MENGAJAR
1.      Strategi Mengajar
Dalam perspektif psikologi, kata strategi yang berasal dari bahasa Yunani itu, berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan (Reber, 1988). Seorang pakar psikologi pendidikan Autralia Mechael J. Lawson (1991) mengartikan strategi sebagai prosedur mental yang berbentuk tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu.[10]
Dibandingkan dengan metode mengajar, strategi mengajar mengajar sebenarnya masih relative baru dalam dunia pengajaran. Ia mulai popular setelah Hilda Taba pada tahun 1960-an menjelaskan kiat-kiat khusus mengajar kecakapan berfikir untuk anak-anak (Tradif, 1989). Strategi mengajar tidak terlepas dari metode mengajar, karena merupakan kiat praktis yang dipakai guru untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu pula seperti metode ceramah, metode ceramah plus, dan sebagainya.[11]
Strategi Mengajar SPELT
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran  modern terdapat cukup banyak strategi khusus dirancang untuk mengajar dengan materi tertentu sehingga mencapai kecakapan yang diinginkan. Diantara strategi-strategi mengajar itu terdapat sebuah strategi mengajar berdasarkan strategis koknitif yang relatif masih aktual. Strategi ini bernama strategy program for effectitve learning/ teaching disingkat SPELT. Program SPELT ini dirancang dan diujicobakan Robert F. Mulcahy, seorang guru besar yang mengepalai the cognitive  education project (proyek pendidikan Ranah Cipta) pada jurusan pskologi pendidikan, universitas Alberta.
Sesuai dengan namanya, stategi SPELT tadi sengaja direkayasa untuk memperbaiki dan meningkatkan keefektivan belajar dan berpikir siswa, terutama yang menduduki kelas akhir sekolah dasar dan kelas-kelas sekolah menengah. Secara eksplisit tujuan strategi ini ialah membuat siswa menjadi:
1.      Penuntut ilmu yang aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah;
2.      Penuntut ilmu yang mandiri, memiliki rencana dan strategi sendiri yang efisien dalam mendekati belajar;
3.      Penuntut ilmu yang lebih sadar akan kemampuan pengendalian proses berpikirnya sendiri (metacognitive awareness).
Dalam melakukan strategi SPELT, guru perlu mengikuti tiga macam langkah panjang dan terpisah dalam arti mengambil waktu yang berbeda tetapi berurutan, yaitu;
1.      Direct strategy instruction (pengajaran dengan strategi langsung)
2.      Teaching for transfer (mengajar untuk mentransfer strategi)
3.      Generating elaborative strategies (pembangkitan strategi belajar siswa yang luas dan terperinci)[12]

2.      Contoh Mengajar
Selaku pengelolaan kegiatan siswa, guru sangat diharapkan menjadi pembimbing dan pembantu para siswa, bukan hanya mereka berada dalam kelas saja melainkan mereka berada diluar kelas, khususnya mereka masih berada dilingkungan sekolah seperti diperpustakaan, di laboratorium, dan sebagainya.
Dalam hal menjadi pembimbing, guru perlu mengaktualisasikan (mewujudkan) kemampuannya dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.      Membimbing kegiatan belajar siswa, khususnya ketika mengajar tidak hanya berarti berceramah di muka kelas, tetapi juga memberikan peluang seluas-luasnya kepada siswa tersebut untuk melakukan aktifitas belajarnya. Contoh; jika para siswa sedang diajari menulis, maka siswa itulah yang seharusnya lebih banyak mendapat peluang menulis, bukan guru. Tugas guru yang paling penting dalam hal ini adalah member contoh dan dorongan persuasif kepada para siswa serta menata lingkungan sebaik-baiknya, sehingga memungkinkan mereka belajar dengan mudah.
2.      Membimbing pengalaman para siswa, guru dituntut untuk menghubungkan mereka dengan lingkungannya. Haal ini penting karena dalam pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya itulah sesungguhnya para siswa mengalami proses pembelajaran. Dengan demikian, maka selaku guru sepatutnya menjaga ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, alat-alat peraga, dan lain-lain komponen lingkungan kependidikan agar tetap dalam kondisi yang baik dan siap pakai.
Kegiatan mengajar sebuah materi pelajaran bukan semata-mata agar siswa menguasai pengetahuan / materi pelajaran tersebut, lalu naik kelas, melainkan juga ia memamfaatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam kehidupan sehari-hari.[13]

C.   METODE POKOK MENGAJAR
Metode secara harfiah berarti “cara”. Sedangkan secara istilah  metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur buku yang melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa (Tradif, 1989).[14]
Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar. Guru-guru yang telah berpengalaman umumnya sependapat, bahwa masalah ini sangat penting bagi para calon guru karena menyangkut kelancaran tugasnya. Karena itu, pelajarilah secara teliti metode-metode mengajar itu sampai saudara mempunyai keyakinan, Kesanggupan, dan pengalaman-pengalaman praktis serata mampu mempergunakannya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khusus yang berada daerah perhatian anak. Metode mengajar yang dipergunakan akan menentukan suksesnya pekerjaan saudara selaku guru di kelas.[15]
Ada empat macam metode mangajar yang dipandang representatif dan dominan dalam arti digunakan secara luas sejak dahulu hingga sekarang pada setiap jenjang pendidikan formal. Tiga dari empat metode mengajar tersebut bersifat khas dan mandiri, sedangkan metode lainnya merupakan kombinasi antara satu metode dengan metode lainnya. Metode campuran ini disebut “metode plus” bersifat terbuka artinya setiap campuran metode tersebut sesuai dengan kebutuhan. Merekayasa metode plus bukanlah hal yang tabu dalam dunia pendidikan modern, agar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip, pskologis-didaktis yang telah diakui keabsahannya dalam dunia kependidikan.[16]

1.      Metode Ceramah
Metode ceramah atau kuliah (lecture method) adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan pada sejumlah siswa yang pada umumnya mengekuti secara pasif. Aktifitas siswa dalam pengajaran yang menggunakan metode ini hanya menyimak sambil sesekali mencatat. Meskipun begitu, para guru yang terbuka kadang-kadang memberi peluang bertanya kepada sebagian kecil siswanya.[17]
Kebaikan dan kelemahan metode ceramah
Berbagai menunjukkan bahwa metode ceramah ini efektif menyajikan bahan yang bersifat informatif atau teoritis dan tidak memerlukan ingatan (retensi) yang harus tahan lama, disampaikan kepada kelompok siswa (audience) yang lebih besar dari 40 orang, sumber-sumber pelajaran sulit didapat (amat terbatas), fasilitas ruangan dan tenaga guru terbatas.
Sedangkan kelemahannya, diantaranya ialah terbatasnya kesempatan partisipasi siswa (audience); hanya bersifat mentaly processing saja (itu pun bagi mereka yang mempunyai kemampuan daya tangkap dan kecocokan latar belakang dengan permasalahan yang dibicarakan); kalau penceramah kurang mampu mempergunakan berbagai teknik secara bervariasi, dapat mendatangkan kejemuan; begitu juga kalau waktunya terlalu lama serta situasi dalam forumnya kurang tertib.
Meskipun terdapat kelemahn-kelemahan tadi menurur Gage and Berliner (1975:463-465) tidak jarang guru yang memperoleh keputusan dan reinforcement dengan adanya perhatian dan tanda-tanda persetujuan atau kepuasan dari audience. Begitu juga bagi siswa (terutama yang merasa kurang mampu beljar sendiri atau membaca sendiri). Mereka memperoleh pelajaran dari sumber yang meyakinkan.[18]

2.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussoin) dan resitasi bersama (socialized recitation). Aplikasi metode diskusi biasanya melibatkan seluruh siswa atau sejumlah siswa tertentu yang diatur dalam bentuk kelompok-kelompok. Tujuan penggunaan metode diskusi ialah untuk memotivasi (menderong) dan member stimulasi (member ransangan) kepada siswa agar berfikir dengan renungan yang dalam (reflective thingking).[19]
Kebaikan dan Kelemahan Metode Diskusi
            Metode diskusi telah memberikan mamfaat ganda, antara lain:
·         Memungkinkan penguasaan perilaku kognitif (process mental, logical, reasoning, berpikir kritis) yang lebih tinggi,
·         Menumbuhkan sikap saling memahami, tenggang rasa, mengendalikan diri melalui proses sosialisasi yang demokratis,
·         Menguatkan daya ingat (retensi), memudahkan transfer, menumbuhkan motif intrinsik untuk belajar;
·         Memupuk semangat kerjasama dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi melalui proses berfikir secara kelompok.
Seperti telah kita maklumi pula, bahwa kelemahan utama metode ini ialah banyak memakan waktu (time consuming). Kalau guru kurang menguasai penggunaannya, sering pembicaraan kurang mencaapai sasaran yang diharapkan.[20]
Meningat adanya kelemahan-kelemahan diatas maka guru yang berkehendak menggunakan metode diskusi sebaiknya terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan sistematis. Kecuali itu guru juga sangat dianjurkan untuk terus-menerus memantau dan mendorong seluruh siswa partisipan untuk turut mengembangkan buah pikirannya secara bebas. Dalam hal ini, peran seorang guru sebagai encourager yang memberi encouregermant (dorongan semangat dan membesarkan hati) sangat diperlukan terutama oleh peserta yang tergolong kurang pintar atau pendiam.[21]

3.      Metode Demonstrasi
Demonstrasi dalam hubungannya dengan penyajian informasi dapat diartikan sebagai upaya kerajaan atau pertunjukan tentang cara melakukan atau mengerjakan sesuatu. Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara lansung maupun melalui media pengajaran yang relefan dengan pokok bahasan  atau materi yang sedang disajikan.
Tujuan pokok penggunaan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar ialah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan (meneladani) dalam melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. Ditinjau dari sudut tujuan penggunaannya dapat dikatakan bahwa metode demonstrasi bukan metode yang dapat diimplementasikan dalam PMB secara independen, karena ia merupakan alat bantu memperjelas apa-apa yang diuraikan, baik secara verbal maupun secara tekstual. Jadi metode demontrasi lebih berfungsi sebagai strategi mengajar yang digunakan untuk menjalankan metode mengajar tertentu seperti metode ceramah.[22]
Kebaikan dan Kelemahan Metode Demonstrasi
Banyak keuntungan psikologis paedagogies yang dapat diraih dengan menggunakan demonstrasi, antara lain yang terpenting ialah:
·         Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan;
·         Proses belajar siswa lebih terarah pada materi ynag sedang dipelajari;
·         Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa. (Daradjat 1985).
Seperti metode-metode lainnya, metode ini juga mengandung kelemahan-kelemahan yaitu:
·         Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan terutama untuk pengadaan alat-alat modern;
·         Demonstrasi tak dapat diikuti / dilakukan dengan baik oleh siswa yang memiki cacat tubuh atau kelainan / kekurangmampuan fisik tertentu.

4.      Metode Ceramah Plus
Metode ini sering dianggap biang keladi yang menimbulkan penyakit “verbalisme” dan budaya “bungkam” dikalangan pelajar, namun kenyataannya masih popular dimana-mana. Sebelum metode itu digunakan guru tentu perlu melakukan modifikasi atau penyesuaian seperlunya.
Metode ceramah plus tersebut dapat terdiri atas banyak metode campuran. Namun dalam kesempatan ini hanya tiga macam metode ceramah plus yang tersaji.
a.       Metode Ceramah Plus Tanya Jawab dan Tugas (CPTT)
b.      Metode Ceramah Plus Diskusi dan Tugas (CPDT)
c.       Metode Ceramah Plus Demonstrasi dan Latihan (CPDP)[23]





BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Ø  Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeretan hubungan keduanya. Sebagian orang menganggap mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan.
Ø  mengajar adalah tugas guru untuk menuangkan sejumlah bahan pelajaran kedalam otak anak didik. Guru yang mengajar dan mendidik dan anak didik yang belajar menerima bahan pelajaran dari guru dikelas.
Ø  Teori tentang konsep mengajar.
1.      Mengajar Sebagai Ilmu, sebagian ahli memandang mengajar sebagai ilmu (science). Oleh karnanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga frofesional yang memiliki frofisiensi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas mengajar.
2.      Mengajar Sebagai Seni, sebagian ahli lainnya memandang bahwa mengajar adalah seni (art), bukan ilmu. Oleh karenanya, tidak semua orang berilmu (termasuk orang yang berilmu pendidikan) bisa menjadi guru yang piawai dalam hal mengajar.
Ø  Strategi Mengajar
Dalam perspektif psikologi, kata strategi yang berasal dari bahasa Yunani itu, berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan (Reber, 1988). Seorang pakar psikologi pendidikan Autralia Mechael J. Lawson (1991) mengartikan stategi seebagai prosedur mental yang berbentuk tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu.
Ø  Contoh Mengajar
1.      Membimbing kegiatan belajar siswa, khususnya ketika mengajar tidak hanya berarti berceramah di muka kelas, tetapi juga memberikan peluang seluas-luasnya kepada siswa tersebut untuk melakukan aktifitas belajarnya.
2.      Membimbing pengalaman para siswa, guru dituntut untuk menghubungkan mereka dengan lingkungannya.

Ø  Metode Pokok Mengajar
1.      Metode ceramah atau kuliah (lecture method) adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan pada sejumlah siswa yang pada umumnya mengekuti secara pasif.
2.      Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussoin) dan resitasi bersama (socialized recitation).
3.      Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara lansung maupun melalui media pengajaran yang relefan dengan pokok bahasan  atau materi yang sedang disajikan.
4.      Metode ceramah plus tersebut dapat terdiri atas banyak metode campuran. Namun dalam kesempatan ini hanya tiga macam metode ceramah plus yang tersaji.
a.       Metode Ceramah Plus Tanya Jawab dan Tugas (CPTT)
b.      Metode Ceramah Plus Diskusi dan Tugas (CPDT)
c.       Metode Ceramah Plus Demonstrasi dan Latihan (CPDP)






DAFTAR PUSTAKA

Muhib Tohirin, Psikologi Pembelajaran Agama Islam, PT Raja Grafindo persada, Jakarta, 2005.
Muhibbin Syah, Pskologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung,  2010.
Saiful Bahri Djamarah, Fsikologi Belajar, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2002.
Iskandar, Psikologi Pendidikan, Gudang Persada Press, Ciputat, 2009.
W. James Popham dan Eva L Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, PT Asdi Mahasatya, Jakarta, 2003.
Abin  Syamsuddin Makmum, Psikologi Kependidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005.




























[1] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta, PT Raja Grafindo persada, 2005), hal.164
[2] Muhibbin Syah, Pskologi Pendidikan, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya,2010),  hal. 177-178
[3] Muhibbin Syah, …. , hal. 179-180
[4] Saiful Bahri Djamarah, Fsikologi Belajar, (Jakarta , PT  Rineka Cipta,2002), hal. 73.
[5] Muhibbin Syah, …. , hal. 179-180.
[6] Iskandar, Psikologi Pendidikan, ( Ciputat, Gudang Persada Press, 2009), hal.107
[7] Muhibbin Syah, …. , hal. 182.
[8]  Muhibbin Syah, …. , hal 184.
[9]  Muhibbin Syah, …. , hal 186.
[10] Muhibbin Syah, …. , hal 210-211.
[11] Muhibbin Syah, …. , hal. 211.
[12] Muhibbin Syah, …. , hal. 211-212.
[13] Muhibbin Syah, …. , hal. 182
[14] Muhibbin Syah, …. , hal. 198.
[15] W. James Popham dan Eva L Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, (Jakarta, PT Asdi Mahasatya, 2003), hal. 141.
[16] Muhibbin Syah, …. , hal. 200.
[17] Muhibbin Syah, …. , hal. 200.
[18] Muhibbin Syah, …. , hal. 240-241
[19] Muhibbin Muhibbin Syah, …. , hal. 202.
[20] Abin  Syamsuddin Makmum, Psikologi Kependidikan, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005), hal.244

[21] Muhibbin Syah, …. , hal: 205
[22] Muhibbin Syah, …. , hal. 205
[23] Muhibbin Syah , ….., hal.207

Tidak ada komentar: